Senin, 05 Mei 2014

PASAR BEBAS ASEAN 2015 : PERSIAPAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA

PENDAHULUAN / INTRODUCTION

Association of South East Asian Nation (ASEAN) merupakan organisasi regional di kawasan asia tenggara yang hingga saat ini terdiri dari sebelas (11) negara, yaitu; Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Singapura, Laos, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Brunei Darussalam. Pada tahun 1997, disepakati ASEAN Vision 2020, yaitu mewujudkan kawasan yang stabil, makmur dan berdaya saing tinggi dengan pembangunan ekonomi yang merata yang ditandai dengan penurunan tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial ekonomi. Lalu pada tahun 2003, disepakati tiga pilar untuk mewujudkan ASEAN Vision 2020 yang dipercepat menjadi 2015, yaitu:
1. ASEAN Economic Community,
2. ASEAN Politcal-Security Community,
3. ASEAN Socio-Cultural Community
ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk Free Trade Area (FTA) yaitu suatu kerja sama ekonomi regional di kawasan Asia Tenggara yang terintegrasi dengan harapan mampu memberikan akses yang lebih mudah pada perdagangan luar negeri. Negara-negara di ASEAN yang dikenal sebagai komoditi ekspor berbasis sumber daya alam terbesar di Asia juga menjadikan peluang dalam persaingan pasar produksi. Namun, jika pemerintah tidak melakukan analisis terhadap permasalahan tesebut, beberapa sektor industri akan mengalami titik kelemahan ketika FTA benar-benar diimplementasikan.
Adanya  pasar bebas atau FTA tersebut membuka kesempatan dan persaingan pada pasar barang dan jasa, pasar investasi, pasar modal dan pasar tenagakerja. Dalam hai ini Indonesia merupakan salah satu negara populasinya terbesar di kawasan ASEAN, yang mana masyarakatnya Heterogen dengan berbagai jenis suku, bahasa dan adat istiadat dan dilimpahi banyak sumber daya alam yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup bagus, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia setelah India. Ini akan menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015.
Pada Pilar Pertama cetak biru MEA, dinyatakan bahwa : ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan aliran modal yang lebih bebas. Bila Indonesia tidak siap, maka aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan modal, terlihat sebagai ancaman daripada peluang. MEA dalam upaya peningkatkan kemakmuran ekonomi dilakukan melalui penguatan daya saing untuk memenangkan kompetisi global, melalui tahapan integrasi pasar domestik sebagai pasar tunggal dan integrasi basis produksi sehingga pada akhirnya mendorong peningkatan daya saing dalam menembus pasar global.
Adapun tantangan MEA seperti lapangan tenaga kerja yang ada di Indonesia akan menjadi ancaman yaitu menaikkan angka pengangguran, karena akan berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia. Khususnya buruh yang tidak memiliki sertifikasi pendidikan seperti buruh-buruh yang didatangkan dari China, bahkan Vietnam yang tidak lebih baik tingkat kesejahteraan pekerjanya dari Indonesia. Bila Indonesia tidak siap, maka aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan modal, terlihat sebagai ancaman dari pada peluang.

PEMBAHASAN / CONTENT

Masalah / Problem
Tantangan utama dalam bisnis di era ASEAN Economic Community 2015 adalah meningkatkan kemampuan SDM mengenai daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor industri dan jasa pada tingkat persaingan global. Organisasi pun dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang memuaskan (customer satisfaction) serta nilai pelayanan itu sendiri (customer value). Diperlukannya pengembangan SDM berbasis kompetensi ini dilakukan agar dapat memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan dan sasaran organisasi berdasarkan standar kinerja yang ditetapkan.
Dijelaskan Yoyo, keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang yang bekerja di dalamnya yaitu  manajemen SDM dalam organisasi tidak sekadar administratif, tetapi mengarah pada upaya mengembangkan potensi SDM agar kreatif dan inovatif.
Kata Muhaimin, standar kebutuhan kualifikasi SDM diwujudkan ke dalam standar kompetensi untuk semua bidang keahlian, yang merupakan refleksi atas kompetensi yang perlu dimiliki setiap orang yang akan bekerja di bidang tersebut, seperti standar: Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Standar Kompetensi Khusus, dan Standar Internasional. Dan perlu adanya lembaga pendidikan berbasis kompetensi untuk menghasilkan SDM yang kompeten, dan telah teruji dalam Lembaga Sertifikasi Profesi agar menghasilkan SDM yang unggul.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik menyerahkan sertifikat kompetensi kepada empat ribu tenaga kerja yang bergerak di sektor pariwisata, yang meliputi bidang perhotelan, restoran, dan spa. Hal ini pun dilakukan dalam rangka Pencanangan Gerakan Nasional Pengembangan SDM Unggul Berbasis Kompetensi di sektor pariwisata. Terlebih lagi dalam menghadapi tantangan di regional ASEAN yang telah sepakat menerapkan kemudahan mobilitas tenaga kerja pariwisata di kawasan ini melalui mutual recognition arrangement (MRA). Hal itu lantaran sektor pariwisata dewasa ini menghendaki penanganan oleh tenaga profesional yang andal, berstandar, dan bersertifikat internasional untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan standar pelayanan wisatawan.
Maka dari itu dorongan untuk tetap eksis ditengah persaingan global. Tenaga profesional dan penguasaan bahasa Inggris menjadi faktor penting. Pemerintah wajib mendukung program dalam pengembangan bahasa asing di indonesia. Meningkatkan pendidikan bahasa asing di sekolah hingga pelatihan berbahasa asing diluar sekolah. Pemerintah juga bisa membuat program-program kreatif, salah satunya program yang dilakukan oleh warga bandung dengan kamis inggrisnya. Tentunya ini cukup membantu dalam meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam mengguanakan bahasa asing. Kemampuan dalam dunia teknologi informasi juga akan menjadi faktornya. Begitu juga dalam peningkatan kemampuan kerja terampil sehingga akan menjadi pesaing yang diperhitungkan.

Solusi / Solution
Untuk itu pemerintah harus melakukan langkah strategis yang dapat dilakukan, di antaranya :
1. Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
UMKM merupakan sektor ekonomi nasional yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi kerakyatan. Pemberdayaan UMKM sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing ekonomi. Persaingan dalam hal kualitas dan kuantitas tidak hanya untuk pasar lokal dan nasional, tetapi juga ekspor. Dengan memberdayakan UMKM, maka dapat teciptanya uasaha baru, lapangan kerja baru dan dapat pula menjaga kestabilan ekonomi negara.
2. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
SDM merupakan hal yang paling pentingdalam menghadapi AEC. SDM yang berkualitas akan mampu bersaing dan kuat menghadapi tantangan. Cekatan serta inovatif dalam mengambil ide, langkah, dan tindakan. Peningkatan kualitas SDM misalnya dengan pelatihan bahasa. Bahasa asing atau bahasa internasional yang telah diakui dunia ialah bahasa inggris dan menjadi sangat penting dalam peranan persaingan global.

KESIMPULAN / CONCLUSION

Hard skill dan soft skill tenaga kerja Indonesia harus ditingkatkan minimal memenuhi ketentuan standar yang telah disepakati. Untuk itu, Indonesia harus dapat meningkatkan kualitas tenaga kerjanya sehingga bisa digunakan baik di dalam negeri maupun maupun diluar negeri, untuk membendung tenaga kerja terampil dari luar sehingga Indonesia tidak menjadi budak di negeri sendiri.
Dengan meningkatan soft skill seperti; peningkatan kualitas penguasaan bahasa asing, yaitu bahasa Inggris yang menjadi bahasa pengantar, dan penguasaan teknologi yaitu pengetahuan tentang komputer. Maka tebuka peluang yang didapat ketika hendak bekerja di Indonesia maupun diluar negri, dengan sudah mengetahui budaya dan bahasa yang digunakan. Selain itu keterampilan ataupun keahlian secara profesional yang memiliki standar umum dan diakui oleh lembaga atau badan organisasi pendidikan resmi tetentu yang dimiliki SDM tersebut juga dapat menjadi nilai khusus dalam persaingan bursa pasar tenaga kerja.

DAFTAR PUSTAKA / REFERENCE
http://dimastidano.wordpress.com/2012/11/28/masyarakat-ekonomi-asean-2015-peluang-atau-ancaman/.



FREE MARKET ASEAN 2015: PREPARATION OF INDONESIA HUMAN RESOURCES

INTRODUCTION

The Association of South East Asian Nation (ASEAN) is a regional organisation in south east asia , which consisted of eleven (11) countries, namely; Indonesia, Malaysia, Thailand, Philippines, Singapore, Laos, Vietnam, Cambodia, Myanmar, Brunei Darussalam. In 1997,  the ASEAN Vision 2020 was agreed. which embodies the stable region, prosperous and highly competitive with equitable economic development is characterized by a decrease in the level of poverty and socio-economic differences. Then in 2003, agreed on three pillars to realize the ASEAN Vision 2020 which accelerated to 2015, namely:

1. ASEAN Economic Community
2. ASEAN Politcal -Security Community, 
3. ASEAN Socio-Cultural Community
ASEAN Economic Community (AEC) is one form of a Free Trade Area (FTA), which is a regional economic cooperation in the region that is integrated with the hope to provide easier access to foreign trade. ASEAN countries are known as commodity-based exports of natural resources in Asia also makes production opportunities in the competitive market. However, if the government did not conduct an analysis of the problems proficiency level, some sectors of the industry will experience a point of weakness when the FTA is really implemented. 

The existence of a free market or the FTA are open the opportunities and competition in the goods and services market, investment market, capital market and the labor market. In this case Indonesia has the largest populations in the ASEAN region, which Heterogeneous communities with different types of tribes, languages ​​and customs and has many natural resources that spread from Sabang to Merauke. 
Indonesia's economic strength is good enough, economic growth is the highest in the world after India. It will be important factor for prepare Indonesian society towards the ASEAN Economic Community (AEC) by 2015.

In the First Pillar of MEA blueprint, stated that: ASEAN as a single market and international production base with elements of free flow of goods, services, investment, skilled labor and more free flow of capital. If Indonesia is not ready, then the free flow of goods, services, investment, skilled labor and capital, will be seen as a threat rather than an opportunity. MEA in an effort to enhance economic prosperity by strengthening the competitiveness to win the global competition, through the stages of integration of the domestic market as a single market and production base integration and ultimately increase competitiveness in the global market.

The MEA challenges such as field workers in Indonesia will be the threat of raising the unemployment rate, as it will have an impact on improving the living standards of the Indonesian people. Especially laborers who have no educational certification as workers were brought in from China, even Vietnam is not better welfare of Indonesian workers. If Indonesia is not ready, then the free flow of goods, services, investment, skilled labor and capital, will be seen as a threat rather than an opportunity.

DISCUSSION


Problem
The main challenge in business in the era of the ASEAN Economic Community 2015 is to improve the competitiveness of human resources capability and competitive advantage in all sectors of industry and services at the level of global competition. Organizations are also accused to be able to provide satisfactory service (customer satisfaction) and the value of the service itself (customer value). Need for human resource development based competency is done in order to deliver results in accordance with the goals and objectives of the organization based on specified performance standards.


The minister of labor and transmigration, Muhaimin Iskandar  said, standard of HR qualification requirements translated into competency standards for all areas of expertise, which is a reflection on the competence of the need of every person who will work in these fields, such as : Indonesian National Competence (SKKNI), Special Competency Standards, and International Standards. 
a competency- based educational institutions is needed to produce competent human resources, and has been tested in the Professional Certification Institute to produce superior human resources.

Minister of Culture and Tourism, Jero Wacik presented certificates of competency to four thousand workers engaged in the tourism sector, which includes the fields of hospitality, restaurant, and spa. This was done in order Launching National Movement Competency Based Development of HR Excellence in the tourism sector. Moreover, in facing the challenges in the ASEAN region who have agreed to implement the ease tourism labor mobility in the region through mutual recognition arrangement (MRA). That's because today's tourism sector requires professional treatment by a reliable, standards, and certified to ensure the fulfillment of the needs of international standard tourist services.

Thus the impulse to exist amid global competition. Professionals and mastery of the English language is an important factor. The Government shall support the development of programs in a foreign language in Indonesia. Improving foreign language education in schools to foreign language training outside of school. The government could also make creative programs, one program undertaken by the citizens of Bandung with the English Thursday. Surely this is quite helpful in increasing public confidence in mengguanakan foreign language. Ability in the world of information technology will also be a factor. So also in improving the ability of the skilled labor that would be a competitor to reckon with.
Solution
Therefore, the government must take strategic steps that can be performed, including:

Empowerment Micro, Small, and Medium Enterprises (SMEs)
SME sector of the national economy is very strategic in the development of social economy. MSME is needed to increase economic competitiveness. Competition in terms of quality and quantity not only for the local and national market, but also exports. By empowering SMEs, it can create new enterprise, new jobs and can also maintain economic stability in the country.
Improving the Quality of Human Resources (HR)
HR is the most important thing facing the AEC. Qualified human resources will be able to compete and strong when facing the challenge. Nimble and innovative in taking ideas, steps, and actions. Improving the quality of human resources, for example with foreign language training. 

CONCLUSION

Hard skills and soft skills of Indonesian workers should be increased to comply with agreed standards. To that end, Indonesia should be able to improve the quality of its workforce so that it can be used both domestically and abroad as well as, to stem the skilled labor from other country so that Indonesia did not become slaves in their own country.

By improving the soft skills such as; improving the quality of foreign languages and technology comprehension . It will be open the opportunities to work in Indonesia and foreign. Besides that, professional skills that have common standards and are recognized by the institution or agency authorized education organization owned by human resources, it can also increase their value in the competitive labor market exchange.
REFERENCE

http://dimastidano.wordpress.com
http://www.portalhr.com


Minggu, 08 Desember 2013

TULISA 2: BISNIS ONLINE

Penjualan online memang sangat diminati akhir – akhir ini, karena kenyamanan dan kemudahannya. Akan tetapi keamanan belum bisa dijamin, penipuan kerap terjadi. Disinilah kewaspadaan diri kita harus ditingkatkan. Berikut contoh kasus penipuan penjualan online.

A. TAHAP – TAHAP PENJUALAN ONLINE.
Secara umum, ada 5 Tahapan yang harus dilakukan, 5 Tahapan ini berlaku jika kita ingin menjalankan bisnis produk sendiri secara online, maupun menjual produk orang lain juga secara online (affiliate program).
Berikut adalah kelima tahapan tersebut:
1. Menetapkan Ide untuk Berbisnis
2. Melakukan Riset Pasar tentang Prospek Bisnis
3. Menyiapkan Bahan-bahan Penunjang untuk Menjalankan Bisnis
4. Membuat Website sebagai Identitas Perusahaan
5. Melakukan Promosi untuk Mengundang pengunjung

B.    KEAMANAN UNTUK MELAKUKAN PEMBAYARAN.
Pada dasarnya, ada tiga lapisan pengamanan dalam mekanisme pembayaran online yang ditawarkan Visa, yaitu:

  • Verified by Visa (VbV)
VbV merupakan metode autentikasi pemegang kartu dengan menggunakan password ketika melakukan transaksi online. Cara kerjanya adalah dengan memasukkan password pribadi ketika Anda melakukan pembayaran dengan kartu Visa secara online. Sistem ini sama seperti ketika Anda diminta memberikan PIN atau tanda tangan ketika berbelanja.
“Saat akan melakukan transaksi, Anda akan diberi One-Time-Passcode atau OTP. OTP ini untuk membuktikan bahwa yang melakukan transaksi memang si pemilik kartu,” tambah Steve. OTP dikirimkan oleh bank penerbit kartu Visa melalui SMS atau token OTP, dan password tersebut harus Anda masukkan saat melakukan transaksi. Dengan cara ini, Anda tak perlu repot mengingat password tertentu.
Selanjutnya, sistem Visa akan memverifikasi identitas Anda kepada merchant, dan meyakinkan Anda sebagai pemegang kartu bahwa data Anda diproses secara aman. Setiap pemegang kartu diminta untuk mendaftarkan layanan VbV ke bank penerbit kartu Visa mereka.
  • Tiga Digit Kode Pengaman
Disebut dengan kode CVV2, tiga digit kode ini tertera di belakang kartu Visa, tepat bersebelahan dengan tanda tangan Anda. Kode ini menunjukkan pada merchants bahwa kartu Anda benar-benar bersama Anda ketika sedang melakukan transaksi online atau melalui telepon.
Ketika Anda memberikan kode CVV2 kepada merchant, informasi tersebut disampaikan secara otomatis kepada bank penerbit kartu untuk proses verifikasi dan autorisasi. Jika sesorang menggunakan kartu Visa Anda tapi tidak dapat memberikan tiga digit kode pengaman, atau jika kode pengaman yang diberikan salah, merchant akan langsung membatalkan transaksi. Namun untuk keperluan keamanan, merchant dilarang keras menyimpan kode pengaman tersebut.
  • Real Time Fraud Monitoring
Sistem pengamanan tidak berhenti begitu saja setelah transaksi berhasil dilakukan. Ada mekanisme yang telah disiapkan untuk mengantisipasi terjadinya fraud, baik yang dilaporkan oleh pemegang kartu kredit maupun yang tertangkap oleh sistem monitoring Visa. Jaringan data Visa telah menyimpan ribuan contoh transaksi pembelian yang sah dari para pemilik kartu kredit, sehingga kejadian-kejadian yang di luar kebiasaan akan diketahui. Selanjutnya, bank penerbit kartu kredit akan menahan sementara biaya-biaya yang mencurigakan. Kemudian bersama Visa, bank akan melakukan konfirmasi sesegera mungkin pada pemilik kartu kredit untuk memverifikasi biaya-biaya tersebut.

sumber : http://rissaurus.wordpress.com/tag/contoh-kasus-toko-online/

Tugas 3: Bisnis Online Yang Bermasalah

    CONTOH KASUS.
Penjualan online memang sangat diminati akhir – akhir ini, karena kenyamanan dan kemudahannya. Akan tetapi keamanan belum bisa dijamin, penipuan kerap terjadi. Disinilah kewaspadaan diri kita harus ditingkatkan. Berikut contoh kasus penipuan penjualan online.
  • Pembajakan Akun
Pada pembajakan akun ini, yang sering menjadi korban adalah tokoh populer. Terutama, akun facebook yang sangat rentan dibajak. Ketika pembajakan berhasil, tipu-menipu mulai dilancarkan. Mulai jual produk, minta dikirim uang, dan lain sebagainya.

  • Barang Tidak Dikirim
Ketika terjadi deal (transaksi), barang yang dikirim tidak kunjung datang. Ini sering dialami oleh pembeli.
  • Bombastis
Memberi janji yang terlalu tinggi sehingga user internet merasa tergoda. Ketika produk atau layanan yang diberikan tidak sesuai promosi, pembeli akan kecewa.

Penyelesaian :
Lihat, apakah websitenya di desain secara profesional. Walau tidak jaminan, namun website yang profesional, bersih, rapi, warnanya macthing, agak lebih kecil kemungkinan bahwa mereka akan scam, karena membuat website yang profesional jelas lebih mahal daripada website sekedarnya.
Lihat, apakah ada alamat lengkap beserta no telepon dari pemilik atau kantor cabang. Alamat yang lengkap lebih kuat dibandingkan hanya sekedar nama saja.
Baca mengenai testimonial yang diberikan, apakah kelihatan benar-benar nyata. Cara paling aman membeli sesuatu adalah dengan melihat testimonial yang diberikan oleh pemakai sebelumnya.
Lihat pencapaian yang dicapai oleh orang atau perusahaan tersebut. Biasanya website-website memberikan pencapaian apa yang ia sudah dapatkan disana, dari sana kita bisa merasakan kredibilitasnya.

http://rikamustikadewi.blogspot.com/

Jumat, 22 November 2013

TUGAS 2: CONTOH PELANGGARAN ETIKA BISNIS

Contoh Kasus 1:

Pelanggaran Etika Bisnis Oleh PT.XYZ

Obat anti-nyamuk ABCyang diproduksi oleh PT XYZdinyatakan ditarik dari peredaran karena penggunaan zat aktif Propoxur dan Diklorvos yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan terhadap manusia. Departemen Pertanian, dalam hal ini Komisi Pestisida, telah melakukan inspeksi di pabrik HIT dan menemukan penggunaan pestisida yang menganggu kesehatan manusia seperti keracunan terhadap darah, gangguan syaraf, gangguan pernapasan, gangguan terhadap sel pada tubuh, kanker hati dan kanker lambung.
ABCyang promosinya sebagai obat anti-nyamuk ampuh dan murah ternyata sangat berbahaya karena bukan hanya menggunakan Propoxur tetapi juga Diklorvos (zat turunan Chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia). Obat anti-nyamuk ABCyang dinyatakan berbahaya yaitu jenis ABC2,1 A (jenis semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang). Selain itu, Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan melaporkan PT XYZ ke Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya pada tanggal 11 Juni 2006. Korbannya yaitu seorang pembantu rumah tangga yang mengalami pusing, mual dan muntah akibat keracunan, setelah menghirup udara yang baru saja disemprotkan obat anti-nyamuk ABC.

Analisis:
Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kejujuran perusahaan besarpun berani untuk mmengambil tindakan kecurangan untuk menekan biaya produksi produk. Mereka hanya untuk mendapatkan laba yang besar dan ongkos produksi yang minimal. Mengenyampingkan aspek kesehatan konsumen dan membiarkan penggunaan zat berbahaya dalam produknya . dalam kasus ABCsengaja menambahkan zat diklorvos untuk membunuh serangga padahal bila dilihat dari segi kesehatan manusia, zat tersebut bila dihisap oleh saluran pernafasan dapat menimbulkan kanker hati dan lambung. Dan walaupun perusahaan sudah meminta maaf dan juga mengganti barang dengan memproduksi barang baru yang tidak mengandung zat berbahaya tapi seharusnya perusahaan juga memikirkan efek buruk apa saja yang akan konsumen rasakan bila dalam penggunaan jangka panjang. Sebagai produsen memberikan kualitas produk yang baik dan aman bagi kesehatan konsumen selain memberikan harga yang murah yang dapat bersaing dengan produk sejenis lainnya

sumber: http://nildatartilla.wordpress.com/2013/02/09/contoh-kasus-pelanggaran-etika-bisnis-oleh-pt-megasari-makmur/

Contoh kasus ke 2:
Sebuah perusahaan yang merupakan suplier resmi dari XYZ melakukan kecurangan bisnis dengan mengoplos solar menjadi minyak tanah dan menjualnya kepada masyarakat. Hal ini tentu menjelekkan nama baik XYZ. Selain itu hal ini juga menyebabkan konsumen Petronas tidak percaya lagi dengan produk-produk XYZ.
Contoh lain yang nyata, yang sering kita saksikan sendiri atau mungkin bahkan kita pernah mengalaminya sendiri saat membeli buah-buahan. Buah yang sudah dipilih, saat membungkus buah pilihan tersebut pedagang menukarnya dengan buah-buahan yang tidak baik kualitasnya tanpa sepengetahuan pembeli. 

Analisisnya:
Bahwa banyak tindakan menyimpang yang dilakukan oleh pebisnis, baik kecil maupun besar, untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda tanpa memikirkan efek negatif yang akan terjadi. Hal ini pada akhirnya hanya akan memyebabkan kerugian pada konsumen, juga pada perusahaan itu sendiri. Kepercayaan yang diberikan konsumen kepada perusahaan tersebut akan hilang dan sebagai seorang pelaku bisnis  kita harus memperhatikan etika – etika yang ada dalam suatu bisnis.

Sumber: http://gisgisgisgishell.wordpress.com/2012/10/07/tugas-1-etika-bisnis/


Senin, 07 Oktober 2013

CONTOH KASUS ETIKA BISNIS PRODUK XYZ

Produk XYZ merupakan salah satu perusahaan global asal Indonesia yang produk-produknya banyak di ekspor ke negara-negara lain. Salah satunya adalah produk mi instan XYZ. Di Taiwan sendiri, persaingan bisnis mi instant sangatlah ketat, disamping produk-produk mi instant dari negara lain, produk mi instant asal Taiwan pun banyak membanjiri pasar dalam negeri Taiwan.
Harga yang ditwarkan oleh XYZ sekitar Rp1500, tidak jauh berbeda dari harga XYZ di Indonesia, sedangkan mi instan asal Taiwan dijual dengan harga mencapai Rp 5000 per bungkusnya. Disamping harga yang murah, XYZ juga memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan produk mi instan asal Taiwan, yaitu memiliki berbagai varian rasa yang ditawarkan kepada konsumen. Dan juga banyak TKI/W asal Indonesia yang menjadi konsumen favorit dari produk XYZ selain karena harganya yang murah juga mereka sudah familiar dengan produk XYZ.
Tentu saja hal itu menjadi batu sandungan bagi produk mi instan asal Taiwan, produk mereka menjadi kurang diminati karena harganya yang mahal. Sehingga disinyalir pihak perindustrian Taiwan mengklain telah melakukan penelitian terhadap produk XYZ, dan menyatakan bahwa produk tersebut tidak layak konsumsi karena mengandung beberapa bahan kimia yang dapat membahayakan bagi kesehatan.
Hal tersebut sontak dibantah oleh pihak PT. ZYX selaku produsen XYZ. Mereka menyatakan bahwa produk mereka telah lolos uji laboratorium dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyatakan bahwa produk XYZ telah diterima dengan baik oleh konsumen Indonesia selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Dengan melalui tahap-tahap serangkaian tes baik itu badan kesehatan nasional maupun internasional yang sudah memiliki standarisasi tersendiri terhadap penggunaan bahan kimia dalam makanan, XYZ dinyatakan lulus uji kelayakan untuk dikonsumsi.
Dari fakta tersebut, disinyalir penarikan produk XYZ dari pasar dalam negeri Taiwan disinyalir karena persaingan bisnis semata, yang mereka anggap merugikan produsen lokal.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa tidak sedari dulu produk XYZ dibahas oleh pemerintah Taiwan, atau pemerintah melarang produk XYZ masuk pasar Taiwan?. Melainkan mengklaim produk XYZ berbahaya untuk dikonsumsi pada saat produk tersebut sudah menjadi produk yang diminati di Taiwan. Dari kasus tersebut dapat dilihat bahwa ada persainag bisnis yang telah melanggar etika dalam berbisnis.